
Salah satu masalah paling umum yang dialami pemula saat mulai bikin konten adalah kehabisan ide. Baru posting beberapa kali, lalu langsung bingung mau bahas apa lagi. Akhirnya konten jadi tidak konsisten, atau malah berhenti sama sekali.
Padahal, ide konten itu sebenarnya ada di mana-mana. Yang sering jadi masalah bukan kekurangan ide, tapi belum tahu cara “melihat” dan mengolahnya. Kabar baiknya, mencari ide konten tidak harus ribet atau butuh alat mahal. Dengan cara yang tepat, pemula pun bisa menemukan ide konten secara konsisten dan relevan.
Baca Juga: Digital Marketing Adalah? Peran Konten yang Efektif
Pahami Dulu Tujuan Konten yang Kamu Buat
Sebelum mencari ide, kamu perlu tahu satu hal penting: kontenmu dibuat untuk apa. Tanpa tujuan yang jelas, ide apa pun akan terasa random dan cepat habis.
Konten bisa punya tujuan berbeda, ada yang untuk memperkenalkan diri atau brand, ada yang untuk edukasi, ada juga yang diarahkan ke penjualan. Saat tujuan sudah jelas, ide konten akan lebih terarah karena kamu tahu konten itu harus menjawab kebutuhan apa.
Misalnya, kalau tujuanmu edukasi, maka ide kontennya akan banyak berkaitan dengan tips, penjelasan, atau solusi. Kalau tujuannya awareness, ide konten bisa lebih ringan dan relatable.
Mulai dari Masalah yang Sering Dialami Audiens
Cara paling sederhana mencari ide konten adalah dengan melihat masalah. Audiens biasanya datang ke media sosial atau Google karena mereka punya pertanyaan atau kesulitan tertentu.
Coba pikirkan, pertanyaan apa yang paling sering muncul di niche kamu. Masalah apa yang sering dikeluhkan orang. Dari satu masalah saja, kamu bisa membuat banyak konten dengan sudut pandang berbeda.
Misalnya, kalau kamu di bidang desain grafis, satu masalah seperti “bingung mulai desain dari mana” bisa dipecah jadi banyak ide konten. Bisa dibahas dari tools, mindset, kesalahan pemula, sampai workflow sederhana.
Manfaatkan Pengalaman Pribadi sebagai Sumber Ide
Pemula sering merasa tidak percaya diri karena merasa belum ahli. Padahal, pengalaman belajar justru sangat berharga untuk dijadikan konten.
Cerita tentang kesalahan yang pernah kamu buat, proses belajar yang bikin bingung, atau hal kecil yang baru kamu pahami bisa jadi konten yang sangat relatable. Banyak orang justru lebih suka konten yang jujur dan realistis dibandingkan yang terlalu “sempurna”.
Konten berbasis pengalaman terasa lebih manusiawi dan sering kali lebih mudah membangun kedekatan dengan audiens.
Lihat Ulang Konten Lama, Jangan Selalu Cari yang Baru
Ide konten tidak selalu harus benar-benar baru. Kamu bisa mengolah ulang konten lama dengan format atau sudut pandang berbeda.
Satu topik bisa diubah jadi konten carousel, video pendek, thread, atau artikel blog. Bisa juga diperbarui dengan data terbaru atau contoh yang lebih relevan.
Dengan cara ini, kamu tidak perlu terus memeras otak untuk ide baru, tapi tetap bisa konsisten membuat konten berkualitas.
Manfaatkan Media Sosial dan Google sebagai “Mesin Ide”
Media sosial dan Google sebenarnya adalah sumber ide gratis yang sangat kaya. Kolom pencarian, kolom komentar, hingga konten kompetitor bisa memberi banyak inspirasi.
Perhatikan pertanyaan yang sering muncul di komentar, topik yang sering dibahas, atau konten mana yang banyak disimpan dan dibagikan. Dari situ kamu bisa melihat pola minat audiens.
Google juga bisa membantu lewat fitur pencarian otomatis dan pertanyaan terkait. Ini menunjukkan apa yang benar-benar dicari orang.
Pecah Satu Ide Besar Jadi Banyak Konten Kecil
Salah satu trik agar tidak cepat kehabisan ide adalah dengan membuat satu ide besar, lalu memecahnya menjadi beberapa konten kecil.
Misalnya, satu topik besar tentang “content marketing” bisa dipecah menjadi konten tentang ide konten, kesalahan umum, tools, strategi pemula, hingga studi kasus sederhana.
Cara ini membuat proses perencanaan konten jadi jauh lebih ringan dan terstruktur, terutama untuk pemula.
Jangan Menunggu Ide Sempurna, Mulai dari yang Sederhana
Banyak pemula terjebak menunggu ide yang “wah”. Padahal, ide sederhana justru sering lebih mudah dipahami dan lebih relate dengan audiens.
Konten tidak harus selalu kompleks. Selama relevan dan bermanfaat, konten sederhana bisa bekerja sangat efektif. Konsistensi jauh lebih penting daripada menunggu ide yang terasa sempurna.
Baca Juga: 5+ Contoh Digital Marketing Sukses di Indonesia yang Wajib Kamu Pelajari
Belajar Menyusun Ide Konten dengan Strategi yang Tepat di Karisma Academy
Kalau kamu ingin berhenti bingung cari ide konten dan mulai membuat konten yang terarah, Karisma Academy bisa jadi tempat belajar yang tepat.
Di Karisma Academy, kamu akan belajar cara riset ide konten, memahami audiens, menyusun content plan, hingga mempraktikkan strategi content marketing yang relevan dengan kebutuhan industri saat ini. Semua dibimbing langsung oleh mentor berpengalaman dengan pendekatan yang praktis dan mudah dipahami.
Daftar sekarang di Karisma Academy dan mulai bangun konten yang konsisten, relevan, dan punya dampak nyata.