
Figma sering disebut sebagai tools wajib bagi UI/UX Designer masa kini. Banyak orang sudah mengenalnya, bahkan bisa membuat desain sederhana seperti landing page atau tampilan aplikasi. Namun, tidak sedikit desainer yang merasa skill Figma-nya “jalan di tempat”. Sudah lama pakai Figma, tapi hasil desain terasa itu-itu saja dan sulit bersaing di dunia kerja.
Fenomena ini sangat umum, terutama di kalangan desainer pemula. Masalahnya bukan karena Figma terlalu sulit, melainkan karena cara belajar dan pendekatan yang kurang tepat. Untuk bisa berkembang, penting memahami penyebab kenapa banyak desainer stuck di level dasar.
Baca Juga: Skill Figma yang Dicari Industri UI/UX Saat Ini
Terlalu Fokus pada Tampilan, Bukan Proses UI/UX
Salah satu kesalahan paling sering terjadi adalah menganggap Figma hanya sebagai alat untuk “membuat desain yang cantik”. Banyak desainer langsung lompat ke warna, font, dan ilustrasi tanpa memahami proses UI/UX secara menyeluruh.
Padahal, di dunia profesional, Figma digunakan untuk menerjemahkan masalah pengguna menjadi solusi desain. Tanpa memahami user flow, user journey, dan tujuan produk, desain akan terlihat bagus tapi tidak fungsional. Inilah yang membuat banyak desainer tidak berkembang meskipun sudah lama menggunakan Figma.
Hanya Menguasai Tools Dasar, Tidak Mendalami Workflow
Sebagian besar desainer pemula hanya menggunakan fitur dasar seperti frame, shape, dan text. Mereka jarang mengeksplorasi auto layout, component, variant, atau sistem desain. Akibatnya, proses desain jadi lambat dan tidak konsisten.
Di industri, Figma digunakan dengan workflow yang rapi dan terstruktur. Jika desainer masih mendesain setiap elemen secara manual tanpa sistem, itu menjadi tanda bahwa skill masih berada di level dasar. Bukan karena tidak bisa, tapi karena belum dibiasakan bekerja seperti profesional.
Kurang Latihan Studi Kasus Nyata
Banyak desainer belajar Figma hanya dari tutorial singkat atau meniru desain orang lain. Hasilnya memang terlihat bagus, tetapi tidak melatih cara berpikir sebagai UI/UX Designer.
Tanpa studi kasus nyata, desainer tidak terbiasa memecahkan masalah, membuat keputusan desain, atau menjelaskan alasan di balik desain yang dibuat. Inilah alasan kenapa banyak yang bingung saat diminta membuat portofolio atau menghadapi interview UI/UX.
Tidak Memahami Standar Industri
Desain yang “oke menurut sendiri” belum tentu sesuai standar industri. Banyak desainer stuck karena tidak tahu seperti apa ekspektasi perusahaan terhadap file Figma yang profesional.
Misalnya, penamaan layer berantakan, struktur file tidak rapi, atau desain sulit dipahami oleh developer. Hal-hal teknis seperti ini sering diabaikan, padahal sangat menentukan apakah seorang desainer dianggap siap kerja atau masih level pemula.
Jarang Menerima Feedback yang Tepat
Belajar sendirian memang fleksibel, tapi sering kali membuat desainer terjebak di zona nyaman. Tanpa feedback dari mentor atau praktisi berpengalaman, kesalahan yang sama terus diulang tanpa disadari.
Feedback bukan hanya soal visual, tetapi juga soal alur berpikir, usability, dan efisiensi desain. Tanpa evaluasi yang tepat, perkembangan skill akan berjalan sangat lambat.
Menganggap Figma sebagai Tujuan, Bukan Alat
Kesalahan paling mendasar adalah menganggap “jago Figma” sebagai tujuan akhir. Padahal, Figma hanyalah alat. Yang dicari industri adalah kemampuan problem solving, berpikir sistematis, dan memahami kebutuhan pengguna.
Desainer yang hanya fokus menguasai tools tanpa memahami konteks UI/UX akan sulit naik level. Sebaliknya, desainer yang paham konsep akan cepat berkembang meskipun tools terus berubah.
Bagaimana Cara Keluar dari Stuck di Level Dasar?
Untuk naik level, desainer perlu mengubah cara belajar. Mulai dari memahami dasar UI/UX, membiasakan workflow profesional, mengerjakan studi kasus nyata, hingga membangun portofolio yang menunjukkan proses berpikir, bukan sekadar tampilan akhir.
Konsistensi latihan dan bimbingan yang tepat juga sangat berpengaruh. Dengan arahan yang jelas, desainer bisa tahu skill apa yang perlu ditingkatkan dan bagaimana cara menerapkannya di dunia kerja.
Banyak desainer stuck di Figma level dasar bukan karena kurang berbakat, tetapi karena belum belajar dengan pendekatan yang benar. Fokus berlebihan pada tampilan, kurang memahami proses UI/UX, minim studi kasus, dan tidak mengenal standar industri menjadi penyebab utama.
Dengan memahami bahwa Figma adalah alat untuk menyelesaikan masalah desain, bukan sekadar membuat tampilan menarik, perkembangan skill akan jauh lebih cepat dan terarah.
Baca Juga: Kesalahan Umum Pemula Saat Desain di Figma
Tingkatkan Skill Figma & UI/UX Bersama Karisma Academy
Kalau kamu merasa sudah lama menggunakan Figma tapi skill belum berkembang signifikan, Karisma Academy bisa membantu kamu naik level.
Di Karisma Academy, kamu akan belajar:
✔ UI/UX dari dasar hingga workflow profesional
✔ Penggunaan Figma sesuai standar industri
✔ Studi kasus nyata untuk melatih problem solving
✔ Pembuatan portofolio UI/UX yang siap dinilai HR dan klien
Belajar langsung dengan mentor berpengalaman akan membantumu keluar dari fase “stuck” dan siap bersaing di dunia kerja.
Daftar sekarang di Karisma Academy dan mulai transformasi skill UI/UX-mu! ✔